Pasaman, Sumatera Barat — kaliber38news.com Serangan hama tikus merusak sekitar 20 hektare sawah milik petani di Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Serangan yang terjadi sejak beberapa pekan terakhir itu menyebabkan tanaman padi yang hampir memasuki masa berbuah tidak dapat dipanen.
Ketua Kelompok Maju Bersama Jon Wilmar di Nagari Panti mengatakan serangan awalnya hanya terjadi di beberapa petak sawah, namun dengan cepat meluas ke hamparan pertanian lainnya.
“Awalnya kami kira bisa dikendalikan, tapi ternyata terus menyebar. Sekarang banyak sawah rusak total,” ujar petani tersebut, Kamis (22/1/2026).
Camat Panti, Refrizal, membenarkan kondisi tersebut dan menyebut pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi bersama Tim Ppl kelompok tani dan pemerintah nagari.
“Kami menerima laporan dari petani dan sudah turun langsung ke lapangan. Saat ini kami sedang mendata luasan sawah yang terdampak untuk dilaporkan ke dinas terkait agar segera ditangani,” kata Refrizal.
Ia menegaskan pemerintah kecamatan mendorong adanya langkah cepat guna mencegah kerugian petani semakin meluas, mengingat sebagian besar sawah berada pada fase menjelang panen.
Sementara itu, Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Pasaman, Jol April, menjelaskan meningkatnya populasi hama tikus diduga berkaitan dengan banjir Batang Air Simpur yang terjadi sekitar satu bulan lalu.
“Secara teknis, banjir menyebabkan habitat tikus terganggu sehingga mereka bermigrasi ke area persawahan. Kami akan melakukan verifikasi lapangan sebelum menentukan pola pengendalian yang tepat,” ujarnya.
Menurut Jol April, apabila hasil verifikasi menunjukkan serangan berskala luas, pihaknya akan menerapkan pengendalian hama terpadu bersama petani, pemerintah nagari, dan instansi terkait.
Ketua Kelompok Tani Usaha Bersama Nagari Panti berharap Pemerintah Kabupaten Pasaman dapat memberikan dukungan konkret bagi petani terdampak, terutama bantuan benih dan dukungan modal untuk tanam ulang.
Bagi petani, gagal panen bukan hanya berarti kehilangan hasil produksi, tetapi juga terancamnya sumber penghidupan keluarga. Mereka berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat agar serangan hama serupa tidak kembali terulang di wilayah pertanian lainnya.
Jurnalistik, (Abdi Novirta)


