Iklan

Iklan

Aksi Peduli Huntara di Jantung Kota Rangkasbitung, Gerbang Huntara Bersama Musisi Jalanan Galang Donasi di Depan Kantor Bupati Lebak

Kaliber38 News
, January 18, 2026 WIB Last Updated 2026-01-18T12:23:59Z


Lebak, Banten – Minggu, 18 Januari 2026 — Perjuangan panjang warga penyintas bencana Lebakgedong terus menggema di pusat pemerintahan Kabupaten Lebak. Selama lima hari berturut-turut, koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Gerakan Membangun Huntara Lebakgedong memilih menginap dan bertahan di depan Kantor Bupati Lebak, sebagai bentuk tekanan moral agar pemerintah segera merealisasikan hunian layak bagi warga yang hingga kini masih hidup di hunian sementara (huntara).


Koalisi ini melibatkan LSM GMBI, Ormas Badak Banten, Forum Warga Bersatu Banten (Forwatu Banten), mahasiswa, penyanyi jalanan, serta warga Lebakgedong. Seluruh rangkaian aksi dilakukan secara damai, terbuka, dan sarat pesan kemanusiaan.



Rangkaian aksi kemanusiaan ini telah dimulai sejak Kamis, 15 Januari 2026, saat Forum Warga Bersatu Banten (Forwatu Banten) membuka open donasi publik di depan Kantor Bupati Lebak melalui cara yang unik dan simbolik, yakni menjual “Pasung Harapan Warga Huntara”.


Pasung yang dijual bukan sekadar makanan tradisional, melainkan simbol perlawanan terhadap keterpasungan harapan warga Huntara Lebakgedong yang selama enam tahun hidup tanpa kepastian hunian tetap. Hasil penjualan pasung tersebut seluruhnya diperuntukkan bagi kebutuhan warga Huntara Lebakgedong.


Presidium Forwatu Banten, Arwan, menegaskan bahwa penjualan pasung adalah pesan moral kepada pemerintah dan publik.


> “Kami menjual pasung bukan untuk mencari untung, tapi sebagai simbol. Pasung ini adalah gambaran bagaimana harapan warga Huntara masih terpasung. Selama negara belum menghadirkan hunian layak, maka keterpasungan itu masih nyata,” tegas Arwan.


Memasuki hari Sabtu, aksi dilanjutkan dengan atraksi Debus yang dimainkan langsung oleh Ormas Badak Banten. Atraksi budaya khas Banten ini menjadi simbol ketangguhan, keberanian, dan perlawanan rakyat kecil terhadap ketidakadilan sosial yang terus berlarut.


Sementara itu, hari Minggu, 18 Januari 2026, massa aksi menggelar “Ngamen Bareng” bersama para penyanyi jalanan di depan Kantor Bupati Lebak. Kegiatan ini sekaligus menjadi lanjutan open donasi untuk membantu masyarakat Huntara Lebakgedong yang masih hidup dalam keterbatasan.


Petikan gitar, lagu kritik sosial, dan syair perjuangan menggema di pelataran kantor pemerintahan. Ngamen bareng menjadi bahasa jalanan untuk mengetuk nurani kekuasaan, sekaligus ajakan gotong royong kepada masyarakat luas.


Presidium Forwatu Banten, Arwan, menegaskan bahwa aksi menginap berhari-hari ini adalah bentuk keputusasaan rakyat yang terlalu lama menunggu.


> “Kami sudah lima hari menginap di depan Kantor Bupati Lebak. Tidur di pelataran kekuasaan agar para pemimpin melihat langsung penderitaan warga Huntara Lebakgedong. Enam tahun pascabencana, warga masih hidup di hunian darurat. Ini bukan lagi soal administrasi, ini soal kemanusiaan,” ujarnya.


> “Enam tahun bukan waktu singkat. Kalau pemerintah serius, huntap itu sudah berdiri. Fakta bahwa warga masih hidup di huntara menunjukkan lemahnya keberpihakan. Ketika rakyat harus menginap, mengamen, dan menjual pasung di depan kantor bupati, itu tanda kegagalan tanggung jawab,” tegas King Naga.

> “Selama warga Lebakgedong belum mendapatkan hunian layak, perlawanan moral ini akan terus berjalan. Warga hanya menuntut hidup yang bermartabat,” pungkasnya.


Dukungan moral juga datang dari masyarakat sekitar. Seorang warga yang melintas, enggan disebutkan namanya, mengaku terenyuh.


> “Mereka sudah lima hari tidur di depan kantor bupati. Ini menyentuh hati. Kalau pemerintah hadir, seharusnya rakyat tidak sampai mengamen dan menjual pasung untuk bertahan,” katanya.


> “Kami lihat sendiri dari hari ke hari. Panas, hujan, mereka tetap bertahan. Ini bukan sandiwara. Kalau rakyat sudah sampai seperti ini, berarti masalahnya serius,” ujar salah seorang pedagang.


Koalisi rakyat menegaskan bahwa aksi menginap, atraksi debus, ngamen bareng, penjualan pasung, dan open donasi akan terus dilakukan hingga ada komitmen nyata dan langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Lebak terkait pembangunan hunian bagi warga Huntara Lebakgedong.


“Selama warga masih hidup di hunian darurat, perjuangan ini belum selesai,” menjadi pesan penutup dari rangkaian aksi kemanusiaan tersebut.(Ifan) 

Komentar

Tampilkan

  • Aksi Peduli Huntara di Jantung Kota Rangkasbitung, Gerbang Huntara Bersama Musisi Jalanan Galang Donasi di Depan Kantor Bupati Lebak
  • 0

Terkini Lainnya